Rabu, 25 Maret 2015

Bangsa Terpenjara

Rakyat menangis miris
intelektual dibutakan
musisi terbungkam
presiden tuli terpenjara.

bangsa nan besar
jadi lahan perebutan
saling tuduh, lempar aib lempar kesalahan
saling aku kebijakan, aku kebenaran!!!!!

heeeeei wakil rakyat!!!
siapa pula yang kau wakilkan???
harga membumbung tinggi
rupiah merosot tajam
muka datar yang kau suguhkan.

heeeeeeei media massa
rekaman apa yang kalian sibukkan?!
tulisan apa yang kalian sebarkan?!
rakyat miskin perut terlilit
haji lulung yang kalian beritakan?!

bangsa nan besar ini
indonesia yang terpenjara.
mari menutup gerbang untuk krisis moneter jilid dua.

ditulis pada March 13, 2015 

Generasi Frustasi

Polemik berkecamuk
jelajahi malam,
kafilah tetap berlalu
tanpa empati, pongkahan kuasa
Demokrasi hanya struktur(!)

bergelimpangan di jalan-jalan
gelegar orasi-orasi politik
semangat kian menguap
kita dihalau, dari kampus sendiri.

yang dicengkram, dibungkam sudah
dia nan terdiam, tak lagi bertahan
dijalanan teriakan kebebasan

Harga lanjut mencekik bergerak,
Kampus perlawanan itupun terperangah
bara dikuyu mata
frustasi memendam dendam.

Periuk nasi nan terancam
digilas harga-harga
diacuhkan didiamkan
menyulut amarah
di orasikan

cacian bergema dijalan-jalan
dobrak pertahanan aparat
manusia saling menyakiti
reformasi hari ini.

ditulis pada January 5, 2014

Negeri di 2025???

Mari duduk bersila
kita akan berimajinasi
"mimpi indah di tahun 2025 nanti",
kala kita sudah bercucu...

masa depan adalah,
hal-hal yang telah ada
terletak di satu ruangan,
nan kita belum ketahui,
hanya sesederhana itu....

240 juta jiwa adalah berkah,
Bangsa nan kreatif itu,
teladan dalam pluralisme,
selama padu!!!

Walau reformasi ramai bertengkar,
partai-partai berebut kuasa,
sementara alampun tak hentinya meradang
tanpa kita sadari...
Kue produksi domestik naik,
walaupun tidak capai sasaran,
kini negeri peringkat 15 dunia,
anggota G-20...

Di atas kertas, di 2025,
sekitar setengah kue domestik ASEAN,
milik kita...
kita menjelma jadi raksasa
dapatkah kalian mengerti apa artinya itu ???
kebanggan yang harus di jaga...!!!!

Kawan-kawanku
"Bagaimana mendistribusikannya dengan adil ?"
itulah utamanya !!!
Tentunya tanpa jurang perbedaan,
antara bumi dengan langit
Juga tidak harus sama rata
"kwantitas" jaga, tapi juga "kwalitas"

keadilan dalam kesejahteraan
dipandu hati nurani...
Disemua lini, tak lagi ada :
Kelaparan kurang gizi
Anak tertimpa gedung sekolahnya
Ditolak berobat alasan biaya

agar hidup tak terlalu sunyi,
smua layak didengar, patut disapa
Mereka bingung, nan frustasi
ibu-ibu "kamisan" tanyakan anaknya,
bakar diri depan istana hingga jahit mulut dibawah tenda,
tak pula layak bocah dipenjara, sementara koruptor berkeliaran.

Demokrasi apa yang kita anut???
Jika rakyat sudah tidak didengar....

Kawan-kawanku
Politik serta ekonomi belaka
tak sanggup lagi
menenangkan keresahan itu...
Nuranilah keadilan,
perhalus dengan taqwa,
Sidharta Gautama memutuskan bertapa...

Telah kita lihat partai-partai berenggutan
memainkan sikut dan tendangannya
Sumpah serapah,
memaki...
Berkilah,
menebar uang !
Surat palsu berkeliaran,
bau busuk mengendus,
KPU dan MK saling menuduh
Demokrasi kita,
Tergradasi urakan

Indonesia kini dicekam kuku-kuku tajam
darahpun telah muncrat...
Rintihan disekap dilupakan,
Retorika ke retorika
Janji ke janji
Akan ke akan
Nanti ke nanti
Dusta ke dusta...

Penghancuran ini
dari dalam diri kita sendiri...
Tunggu saatnya,
di altar waktu,
semua kan terbuka...

Kawan-kawanku,
Semoga kita masih ada,
bersila bersama,
di 2025 nanti.

*sedikit mengutip dan mengubah syair dari Astar Siregar

ditulis pada June 1, 2013

The Other itu bernama Rifai "Sang Pengelana di Negeri Mahasiswa"

Hay nak… kenapa kau tak sekolah???
Oh iya, kau sibuk mengais plastik ya?

Kebanyakan dari kita sewaktu kecil bercita-cita jadi dokter, pilot atau polisi.
Keren, bagaimana hidup membawa kita menjadi kita suatu hari nanti…
Aku sering memikirkan tentang cita-cita orang lain,
tentang mereka yang tak berpunya.
Lucu betapa mereka bisa tetap bermimpi meskipun terhalang bahasa dan pengetahuan,
dalam benakku Mereka mampu bermimpi tapi tak tahu arah mana yang di tuju,
faktanya…. Bagaimana bisa seorang mereka mampu…
ketika semua jalan telah di tutup?
Bagaimana bisa merubah mimpi jadi nyata ketika kewajiban hadir tidak pada waktunya?

Rifai….
Ya…. Rifai namanya….
Bocah kecil pemulung di negeri mahasiswa….
Berganti profesi menjadi peminta-minta...
Mungkin juga ber acting….
Entahlah…. Tapi itulah yang ku lihat…
Pandai sekali dia meneteskan air mata, sedikit malu kemudian mengiba
Jangan salahkan dia yang pandai berperan…
Itu keahliannya…
bisa jadi itu yang dia dapatkan dari didikan televisi tontonannya
Tapi televisi dimana? Dia seorang pemulung miskin di usianya yang muda?
Jangan bingung, telivisi ada di tiap kelurahan, sedikit kemakmuran untuk rakyat miskin
Menghibur diri dengan media modern yang syarat akan pembodohan...

Lalu siapa yang disalahkan? Apakah orang tuanya yang tak mampu?
atau pekerjaan yang terlalu syarat akan lulusan sekolahan???
Minimal 9 tahun katanya? Untuk menjadi office boy ataupun supir taxi itupun tahun 2011,
entah dengan sekarang..
Bagaimana bisa, Rifai mampu bersekolah? Uang makan saja masih memelas iba berharap ada yang mengiba…
Mengiba kawan bukan mencaci dan curiga….
Entah apa yg terjadi pada negeri ini sampai kita menjadi mahkluk penuh curiga melebihi rasa iba….
Menyalahkan mereka yang di anggap bodoh bukan mencari solusi bagaimana mengeluarkan mereka dari kebodohannya.

Rifai namanya sang aktris cilik dari kaum marjinal, setetes air mata palsunya ku anggap nyata untuk negaraku tercinta,  INDONESIA.

https://fbcdn-sphotos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xfa1/v/t1.0-9/s180x540/394013_300008436796784_891879759_n.jpg?oh=b499009cb13c0564530b2e6d3ef56cd4&oe=55B2C840&__gda__=1433729511_b59d3b0d1111c134ee003e09f0974f13 

Ditulis pada April 25, 2013

Rabu, 24 Desember 2014

Curhatan Tertunda Di KKN Gue :D



November Rain, We meet in November Rain.
Bukan lagu yah :p

Soalnya lagu ini gak cocok banget buat ngegambarin perjumpaan gue bareng adik-adik luar biasa di dusun ngriringin desa batur sala tiga ini. Yah for your information, gue kesini bukan buat jalan-jalan, refreshing dengan muncak ataupun semacamnya guys, tapi gue kesini itu buat ngejalanin tugas kuliah, KKN maksudnya, yah sesuai nama, kuliah kerja nyata, yang gak lain kegiatan gue mengabdi yang pastinya kerja, kerja and kerja.

Mungkin gue mo flashback dikit awal sebelum KKN gue, yah mirip lo lo pada yg gak puya nyali, awalnya pikiran gue kemana, “gimana kalo warga setempat gak demen sama gue yang notabenenya pecicilan?” , “atau ibu tempat gue tinggal gak ramah? , “gue bakal jadi babu sebulan di tempat orang yg sama sekali gue kagak kenal?”. Intinya pikiran gue sampah banget deh.

But, now I am here and enjoy it!!!
Selain tim KKN gue yang luar biasa keren-keren, DPL, Ibu kadus tempat gue tinggal and warga setempat ramah abis.

Dan kegiatan pertama kita, ngikutin tahlilan ibu-ibu, disini ada kejadian lucu, gue bukan orang jawa  asli, so otomatis gue gak bisa bahasa jawa alus ato sering dibilang kromo. Nah berhubung kegiatan KKN kita di pedesaan gunung, warganya make bahasa kromo. Nah pas selesai pengajian, ada temen gue yang nanya, remaja putri disini kegiatannya apa, ibu-ibunya pada rebutan menjawab pertanyaan temen gue, seingat gue kalimatnya gini nih “teng mriki mboten wonten ingkang lanjutaken mbak, wontenipun lulus SMA langsung SGA alias sekolah gawe anak”

Ekspresi gue mlongo lah, secara gue gak paham apa yang di maksud, nah pas disebelah gue ada anak perempuan bu kadus, gue nanya lah ma dia, artinya apaan eh ibu-ibunya denger trus pada ribut lagi buat jawab.

Ternyata artinya “disini itu gak ada yang lanjut mbak, adanya langsung lulus SMA langsung SGA sekolah gawe anak alias sekolah bikin anak”, miris gue dengenya, tapi ibu-ibu and temen-temen gue pada ketawa.

Diacara tahlilan itu kita nyampein apa aja yang bakal kita lakuin satu bulan kedepan. Salah satunya bikin Rumah Belajar buat adik-adik Ngringin.

Dan sore pertama gue mulai ngajar adik-adik ngringin, karena emang gue suka anak-anak and suka ngedongengin, alhasil banyak dari mereka pengen gue yang ngajarin, but proker tetap proker, ada permulaan harus ada hasil dan harus bisa dikondisikan, so gue bagi anak-anak sesuai kelas and di back up oleh temen-temen satu tim gue.
Lucunya, gue jadi rebutan guys.

Hari kedua, ada satu anak non muslim, namanya jilena untu ukuran anak kelas 3, dia termasuk anak yang cerdas dan realistis.
Kenapa gue bilang gini, di usianya yg menduduki kelas 3, dia lumayan lancar berbahasa inggris, dan logikanya main kalo masalah mengatur keuangan. (dalam hal ini dia mengkritik anak bungsu ibu kadus yang selalu mengganti popok setiap saat dan dia sebut popok dari uang terus di poop.in terus ganti lagi, berulang lagi. Dalam satu hari gak cuma satu atau dua yang dibuang, sama aja buang-buang uang)
Yaaaahhh logikanya bisa diterima, gambaran sederhana sih, tapi lumayan rumit buat anak kelas 3 guys.
Gimana enggak, secara bokapnya specialis dokter hewan and nyokapnya magister pendidikan.
And mereka yang membangun paud di daerah itu.

Walaupun non muslim, masyarakat setempat harus bersyukur karena udah tertolong dengan PAUD dan TK yang di bangun oleh ibu Lely yang gak lain nyokapnya jilena.

Okeh udahan bahas kehidupan pribadi jilena, di hari kedua ini gue dapat surat dengan amplop putih besar dan bertuliskan FOR KAK DEKA, yang di kasih lewat salah satu temen gue yang hari itu jadwalnya mengabdi di PAUD, katanya dari Jilena.

Pas gue buka, isinya dua kertas HVS dengan gambar anak kecil yang bertuliskan I LOVE KAK DEKA, dan satunya gambar orang-orangan yang bergandengan tangan.

Gila’, caranya menyentuh guys, sorry kalo lebay, secara gue anak bungsu yang dari kecil pengen banget punya adek.

Sayangnya pas kegiatan ngringin pintar sore harinya, jilena gak datang. But its ok, mungkin dia lagi ikut les menari, balet atau tarik suara. :D

Kegiatan yang sore kedua ini nih agak kocak, pas kegiatan mulai, gue sengaja gak muncul sampe pertengahan kegiatan, eh pas gue lewat mo ke toilet nih, adek-adek yang di ruang tamu pada teriak kak dekaaaaaa gitu. Berasa artis cuy :D

Padahal kamar tim KKN di ruang tengah. Otomatis gue ngisyaratin buat diem dunk, secara ada adek kecil lagi boim alias bobo imut di kamar ruang tamu.