Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Desember 2015

Perempuan Karang (3)


“Jadi papa kamu udah pulang?”
“Iya zal, kemarin minggu dan dia bawa oleh-oleh yang gak biasa”
“itu artinya papa kamu masih perhatian sama kamu dong”
“Iya, saking perhatiannya aku harus merawat dia beberapa hari ini, karena oleh-oleh yang dia bawa adalah malaria dari daerah yang dia kunjungi terakhir zal”
“oh iya? Apa ada yang bisa aku bantu?”
“Ada, cek ulang jadwal meeting saya hari ini, kalau ada janji rapat dengan klien, BATALKAN, karena saya harus merawat ayah saya”
“Baik nona, ada lagi?”
“Hahaha ada-ada aja, hmmt... sore-sore gini biasanya kita udah jalan-jalan ke pantai kalo gak ke puncak yah, sekarang udah beda pulau, mana bisa jalan bareng”
“Kamu kangen sama aku ya? Kalau mau di ajak jalan-jalan bilang aja, nanti aku ke Binongko”
“Sembarangan! Yang kangen kamu siapa? Idih aku Cuma bosen aja di Binongko. Ya udah dulu ya, aku ada urusan. Bye...”

     Disini saya sekarang, kembali ke rumah di Binongko, terakhir saya kesini saat treagedi mama terserang stroke, dan hari ini juga saya sedang merawat papa yang sedang sakit. Mama juga pulang ke Binongko tapi menetap di desa Taepabu (Rumah masa kecilnya, sekarang mama tinggal bersama kakak sulungnya) beberapa kilometer jauhnya dari kami. 

    Pagi-pagi saya harus bangun untuk membuat bubur untuk sarapan papa saya, dan membersihkan rumah, setelah itu sekitar jam 10 pagi saya akan meluncur ke Taepabu untuk merawat dan menyiapkan kebutuhan mama, begitulah setiap saatnya selama kurang lebih 3 minggu, ada saat dimana saya sangat terpuruk dan putus asa, kenapa semua ini menimpa saya? Dan ketika perawat datang untuk mengontrol kesehatan papa, saya mendengar dia berkata “untung saja lely orangnya kuat, jadi dia bisa melewati semua ini seperti tidak terjadi apa-apa”

    Saya mengambil sisi positifnya dengan beranggapan, orang-orang mengira saya gadis yang tangguh, dan jika memang benar, aku harus menjadi gadis yang tangguh, dan saya percaya untuk menjadi tangguh adalah suatu kebutuhan yang mutlak adanya.

Biiip... Biiip...
Biip... Biiipp...
“Gimana kabar hari ini? Lagi apa?”
“Seperti biasa, gak ada yang berubah, membosankan”
“Makanya aku sms biar kamu gak bosen”
“haha... lucu, ada apa kamu sms? Gak biasanya, kamu kan type orang yang suka ngabisin pulsa dengan cuap-cuap bukan dengan ketak ketik beginian”
“Aku lagi dirumah kakakku, kita mau ke pantai siang ini”
“lalu? Kamu mau pamer? Atau ada sesuatu yang pengen kamu sampein?”
“Antara pengen pamer dan ada sesuatu yang pengen aku sampein”
“Haha.. lucu, jadi apa yang pengen kamu sampein?”
“Aku mau ke pantai bareng kakakku dan keluarganya :p”
“SERIUS ITU DOANG?”
    Selalu saja begitu, dengan candaan yang terkadang membuat saya jengkel, saya menunggu sepanjang hari balasan dari pertanyaan yang tak kunjung di balas, saya mulai mencari kontaknya dan menelpon, tapi niat itu hanya sampai pencarian, yang benar saja, mana mungkin saya menelpon dia untuk mencari tahu jawaban dari sms saya, dia pasti hanya bercanda, hanya sekedar menghibur saja.

     Papa sudah minum obat dan melanjutkan tidur, dan saya masih dengan menunggu ponsel berdering menunjukan nama yang saya tunggu-tunggu, entah kenapa saat itu perasaan saya berkata lain, ada sesuatu yang lebih penting yang akan dia sampaikan. Dan saat mata mulai sayup-sayup, ponsel berdering tepat jam 10 malam.
“Waw waw waw, cepat sekali kamu ngangkat telponku”
“kamu gak tau, sepanjang hari aku nunggu kabar dari kamu?”
“kabar dari aku? Kok nunggu kabarku”
“maksudku, aku merasa ada hal lain yang ingin kamu sampein zal”
“emm kamu yakin? Bukannya kamu nunggu di telpon? Rindu kah?”
“Sudahlah lupakan, aku ngantuk”
“hop hop hop... ok ok, aku kasih tau deh dasar jutek, jadi gini tadi kan aku ke warnet, yah seperti biasa nyoba buat cek pengumuman tes yang kamu ikutin”
“Dan?!!!! Hasilnya apa???”
“emm kamu lulus, ini aku print pengumumannya, nanti aku kirim”
“aaaaaa makasih ya zal, kamu baik banget deh, aku gak tau gimana aku kalo gak ada kamu”
“yupp, kan aku udah bilang bakalan bantuin, kalo udah bilang gitu ya jadinya gitu”
“iya zal, makasih. Kamu sahabat cowok yang paling baik”
“......”
“......”
“.....”
“zal? Masih disana? Kamu ngantuk yah, mau tidur? Ya udah tidur dulu deh, besok aku telp..”
Tuut tuuut tuuuut... Telfon mati ketika saya belum selesai bicara.

    Papa sembuh dan kami mulai tinggal serumah dengan mama, kakak dan suaminya sering mengunjungi kami. Hari-hari itu sering di habiskan dengan melatih mama untuk bisa berdiri dan Rizal tidak pernah menghubungi, mengangkat telpon dan membalas sms dari saya. Ada sesuatu yang membuat dia menjauhi saya, dan aku tidak tahu apa itu.

    Ketika hari keberangkatan saya untuk kuliah tiba, saya berangkat dengan tangis yang menderu-deru, bagaimana tidak? Saya meninggalkan mama saya yang saat itu belum menunjukkan kemajuan apapun dari hasil terapi yang kami lakukan, dan dia tidak ikut mengantar saya sampai di dermaga.

Tapi saya tetap berangkat dengan membawa restunya.

Selasa, 22 Desember 2015

Perempuan Karang (2)

Biiiip Biiipp Biipppp....
Biiip Biiiip Biiipppp....

“Assalamu alaikum lely, ini aku vina mau ngasih tahu,  tes beasiswa Universitas Islam Sultan Agung Semarang dimulai besok jam 8 pagi di SMP 1 wangi-wangi dateng ya nanti tes bareng”

    Pagi itu saya di kagetkan dengan pesan singkat dari sahabat saya vina, antara senang dan sedih, senang karena menerima kesempatan untuk mendapatkan beasiswa di tengah-tengah kesulitan keluarga, sedih karena harus meninggalkan mama saya yang sedang sakit. Tapi perasaan senang  lebih mendominasi dan akhirnya saya sampaikan kabar baik  ke mama. Mama, Tante, Om, Nenek, Kedua sepupu saya waktu itu (Legi dan adiknya) senang mendengar kabar tersebut.

    Tapi ada hal lain yang membuat saya khawatir. Pagi ini saya masih berada di kota Bau-Bau, pulau Buton, sedangkan ujian akan di lakukan di Pulau wangi-wangi yang jarak tempuhnya melewati lautan selama 8 jam menggunakan kapal kayu, tidak hanya itu, saya juga tidak memiliki cukup uang untuk membeli tiket kapal menuju pulau wangi-wangi. Tidak ada jalan lain selain menelpon papa yang berada di batam, dengan perasaan takut (karena memang papa saya paling tidak suka di ganggu saat kerja), seperti yang sudah saya gambarkan pada awalnya papa akan marah tetapi beberapa jam setelah kuping panas kemudian dia akan memberi solusi, dan saya di anjurkan untuk datang ke rumah saudaranya meminjam uang untuk biaya ke pulau wangi-wangi.

   Tiket sudah di tangan, restu sudah didapatkan waktunya saya berangkat ke pulau wangi-wangi, dengan di antarkan rizal,  kami melaju dengan cepat menuju pelabuhan. Memang niat baik tak pernah menjanjikan jalan yang mulus, terjadi masalah di mesin kapal yang akan saya tumpangi, yang seharusnya berlayar jam 9 malam mundur menjadi jam 10 malam. Tapi saya tidak sendiri, selama satu jam Rizal menemani saya di dek kapal. Ada banyak hal yang menjadi bahan pembicaraan kami, saya adalah perempuan yang tertarik pada hal-hal baru, semua yang di ceritakan oleh Rizal adalah hal yang menarik bagi saya, tentang pendaftarannya di akademi polisi yang mengalami penolakan dimana saya tidak mengerti apa yang kurang di fisik sahabat saya, karena bagi saya secara fisik dia mendekati sempurna untuk polisi, sedangkan kakak-kakaknya juga sudah menjadi brigadir, lalu apa sebenarnya yang di ragukan pada Rizal, selain itu dia bercerita tentang pengalaman Traveling-nya, tentang gadis gadis yang pernah mengisi hatinya, dan keadaan keluarga yang kurang baik baginya.

   Banyak dari teman saya menilai kami sepasang kekasih, tapi itu bukanlah kenyataan, karena apa yang kami jalani hanyalah sebatas sahabat, meskipun terkadang saya bingung dengan posisi saya sendiri, sebenarnya hubungan apa yang kami jalani? Dengan basic keluarga yang mirip membuat kami semakin akrab, saling memberi semangat dan saling memberi perhatian, bahkan hal terkecilpun tidak luput dari perhatian kami. Tapi bagaimana lagi, begitulah lika likunya bersahabat dengan lelaki, jika perasaan mendominasi hancurlah sebuah persahabatan.

   Jam menunjukkan pukul 10 lebih dan awak kapal melarang pengantar untuk tinggal lebih lama, detik-detik pemberangkatan Rizal tak kunjung bergegas dari tempatnya.

“Zal, kapalnya mau berangkat kamu gak turun ke darat?”
“Iya bentar lagi, nanti kan bisa lompat”
“Kalau udah jalan jauh gimana? Kamu turun sekarang aja”
“Aku bisa bayar awak kapal kalau kamu takut di tinggal”
“idiiih... yang takut di tinggalin siapa, bukannya kamu makanya gak turun-turun?”
   Dia menatap saya dan terdiam, karena bingung dan kaget saya terdiam, beberapa menit saya menampar bahunya sambil mengusirnya dari kapal.

Kapal berlayar....

   Ketika saya terbangun waktu menunjukkan jam 3 pagi dan kapal berlayar  dengan tenangnya, mungkin karena laut tidak berombak saya bisa tidur dengan sangat lelap meskipun sebenarnya saya tidak akan mabuk jika cuaca sedang buruk. Kemudia saya merapihkan diri dan keluar menuju anjungan kapal, disana saya menikmati angin laut dan gugusan bintang-bintang dilangit, entah sinyal bisa tersangkut dari arah mana ada beberapa pesan masuk diponsel saya.

“Lel, hati-hati, kalau tidur tasnya di peluk.”
“Tadi aku lupa beliin bekal dan air mineral, sekarang pasti lapar kan.”
“Kalau sms ini udah kamu baca langsung di bales, karena aku tidak tidur malam ini.”
   Hanya karena sebuah pesan berisikan bekal, perut saya langsung keroncongan, dan benar saja terakhir makan saat sore hari sebelum berangkat.

“Zal, udah tidur? Tenang aja tidak ada barang penting di dalam tas, terima kasih tapi aku belum lapar hanya sedikit haus, kamu gak perlu khawatir. Kamu ngapain sekarang? Aku sedang menatap bintang dari anjungan kapal. Zal, kehidupan di laut rasanya lebih menyenangkan dari darat, banyak misteri dan luas, rasa-rasanya semua masalah akan hilang dengan hanya menangkan diri dari atas sini”

   Lama saya menunggu balasan, mungkin Rizal sudah tertidur, dan memilih untuk masuk kembali ke tempat tidur, di sebelah saya ada seorang ibu dan anak lelaki yang kurang lebih berusia 7 tahun, mereka sedang menikmati  potongan-potongan ketupat dengan ikan bakar, dan tanpa sadar saya menatap dengan wajah kelaparan. Karena tidak ingin mengganggu mereka, saya kembali merebahkan badan dan melihat ponsel, sekiranya ada pesan yang masuk, tapi apa yang ditunggu-tunggu belum juga ada, disaat yang sama saya dikagetkan oleh ibu yang sedang makan tadi.

“Nak, mau kemana?”
“Mau ke SMA 1 Wangi-Wangi tante”
“ada keperluan disana? Bukannya besok hari minggu nak?”
“Iya hari minggu, kebetulan saya mau tes beasiswa jam 8 besok di sana tante”
“Semoga berhasil ya nak. Kamu lapar?”
“Sedikit tante”
“Ini masih ada ketupat dan ikan bakar, makan saja tidak apa-apa”
   Tanpa malu-malu dan mengucapkan terima kasih langsung mengambil bekal yang disuguhkan kepada saya, ketika saya makan ibu tadi justru tertidur di samping anaknya. Saya sangat beruntung bertemu dengan mereka, karena kalau tidak mungkin saya akan kelaparan sampai kapal bersandar di pelabuhan.

Biiipp.... Biiipp...
Biiippp...Biiipp...

“Aku belum tidur, sekarang cuma nunggu balasan pesanmu. Sepertinya kamu sangat menyukai laut?. Kamu bilang  sangat menyenangkan berada di lautan. Lebih menyenangkan mana? Lautan atau aku?”
 “Kamu mengigau zal? Pertanyaanmu sungguh tidak mendasar, mana bisa lautan dibandingkan dengan manusia?, ada beberapa hal yang menarik perhatianku, aku tidak mungkin dan tidak akan mau membandingkan-bandingkannya zal”

“Lalu.... apakah aku cukup menarik perhatianmu?”
“Tentu saja, kamu sahabat terbaikku dengan begitu banyak pengalaman yang sangat menarik menurutku”
“Hanya itu? Sebatas pengalaman yang menarik perhatianmu?”
“Tidurlah, besok kita gak tahu urusan mendadak apa yang akan kamu lakukan, sedangkan aku mau ujian. Kita sama-sama perlu istirahat, selamat malam zal”
“Selamat malam”

    Waktu menunjukkan pukul 8 pagi dan kapal masih saja belum bersandar, meskipun  pelabuhan paulau Wangi-Wangi sudah di depan kapal, dengan harapan yang mulai luntur saya berdo’a, semoga saya tetap bisa mengikuti ujian. Kapal benar-benar bersandar di pelabuhan sekitar pukul 9 lebih, disaat itu saya kebingungan mau kemana? Kendaraan apa yang melewati SMA 1 Wangi-Wangi?, dengan ragu-ragu saya tetap menuruni tangga kapal, dan dengan hati murung tiba-tiba saja ada yang memanggil saya.

“Lely! Kamu sudah siap nak? Mau langsung ke SMA atau mau singgah di rumah dulu untuk mandi?”
“Papanya vina? Ini sudah jam berapa om, saya takut tidak bisa mengikuti ujian”
“Sudah, tenang saja. Om sudah meminta izin untuk kamu, sekarang pulang dulu kerumah, mandi dan sarapan lalu ujian”
 
   Setibanya dirumah, saya langsung bersiap-siap dan ketika selesai saya meminta tolong pada papanya vina untuk langsung mengantar saya langsung ke SMA. Sesampainya saya disana kebodohan lain muncul, saya tidak membawa papan ujian, jangankan papan ujian, alat tulis saja saya tidak membawanya. Akhirnya saya meminjam pulpen di salah satu teman.

   Beberapa menit saya mulai mengerjakan ujian, papanya vina kembali ke dalam kelas dan memberikan saya papan ujian dan alat tulis lengkap yang masih baru. Lalu saya mulai mengerjakan soal-soal ujian. Setelah selesai ujian seluruh peserta di arahkan berbaris keluar kelas dan diberikan pengumuman bahwa hasil dari nilai ujian akan di umumkan lewat website resmi universitas dan propinsi. Saat-saat itu saya berkenalan dengan teman baru, perempuan yang pulpennya sempat saya pinjam di awal ujian, dia bernama Israyana, dia memiliki paras yang manis, tinggi besar dan suara yang halus. Setelah perkenalan itu pertemanan di antara kami bertiga di mulai, saya, vina dan isra. Sebelum berpisah kami  berjanji untuk berangkat ke Semarang bersama-sama.


   Minggu malam saya langsung memesan tiket kapal untuk kembali ke Buton, tidak tega meninggalkan mama membuat saya menolak tawaran vina untuk tinggal lebih lama. Dan keberangkatan malam itu sangat berbeda dari sebelumnya, saya membawa bekal dengan bermacam-macam lauk dari masakan mamanya vina, kue dan juga air mineral. Setelah mengucapkan terima kasih dan meminta izin, saya di antarkan menuju pelabuhan oleh papanya vina.

   Kapal mulai berlayar pukul 9 tepat, dan saya berada di dek yang sama dan posisi kasur yang sama, hanya saja kapal dan tetangga yang berbeda. Kali ini di sebelah saya adalah seorang kakek tua yang akan berlayar menuju Buton, mungkin karena waktunya berbalas budi, saat saya ingin makan kakek tersebut melihat saya dengan tatapan kelaparan, dan malam itu saya berbagi makanan dengan kakek tersebut, dia bercerita akan menghadiri wisuda cucunnya di Universitas Dayanu Ikhsanuddin.

Biiiipp... Biiipp...
Biiiipp... Biiipp....

“Kamu jadi balik malam ini?”
“iya zal, kenapa? Kamu merindukanku?”
“Sudah jelas, sebagai sahabat aku  selalu merindukanmu.”
“Hanya itu?”
“bukan itu saja, kabari kalau sudah sampai pelabuhan nanti aku jemput”
“Cukup gitu aja?”
“Sepertinnya ada yang kurang”
“Kira-kira apa zal?”
“ah sudah lupakan. Hati-hati, ingat kabari aku kalau udah sampai”
“aye aye capten!”
   Begitulah pesan-pesan singkat di antara kami, obrolan-obrolan  yang saya tidak mengerti kemana tujuannya, dan seperti biasa, pagi itu dia datang terlebih dahulu sebelum kapal bersandar di pelabuhan. Kami berdua semakin absurd dan perjuangan saya semakin membutuhkan keteguhan yang tidak main-main.

Rabu, 09 Desember 2015

Perempuan Karang (1)



Ada banyak kisah yang ku simpan dalam-dalam di pikiran, terkadang kisah-kisah itu menggelitik di ingatan, tapi tak jarang mereka menampar keras kesadaran. Bicara tentang kisah mungkin dari tulisan ini dan beberapa tulisan lainnya nanti akan bercerita tentang pengalaman yang pernah saya alami, entah itu pengalaman yang sudah saya tulis dalam buku saku (saya tipe orang yang masih menulis kalimat pengingat di buku diary) ataupun yang masih tersimpan rapi dalam ingatan dengan luka-luka yang abadi.
  

Waktu itu saya masih berusia 17 tahun, dan pastinya status saya masih kelas 3 SMA, tepatnya sudah melewati yang namanya ujian akhir nasional. Saya anak bungsu dari dua bersaudara, kakak perempuan saya sedang mengambil study kebidanan di kampus bergengsi di kota Kendari, Sulawesi Tenggara, saya dan teman-teman saya bermimpi untuk mengejar cita-cita kami masing-masing dengan mengambil study lanjut di universitas pilihan kami masing-masing.
Saya termasuk anak dari keluarga yang berada tapi tidak manja, dan saya perempuan yang punya banyak mimpi, punya banyak tujuan untuk saya tempuh, anak perempuan yang ingin membuktikan pada ayahnya bahwa saya bisa menjadi kebanggaannya (maklum saya lebih akrab dengan ayah saya). sayangnya ketika itu keadaan keluarga sedang bangkrut, alhasil pupus keinginan saya untuk melanjutkan study.

Tetapi tak disangka guru SMA saya membawakan brosur dan formulir pendaftaran beasiswa di salah satu universitas islam yang berada di Semarang, dengan ragu-ragu saya menerima formulir tersebut, sambil melengkapi syarat-syarat untuk mengajukan beasiswa, saya menelpon ayah saya yang pada waktu itu sedang merantau ke batam dan dia mengizinkan saya untuk mengikuti tes beasiswa.
Setelah berminggu-minggu saya berkutat dengan berbagai macam syarat-syarat pengajuan beasiswa tiba saatnya saya mengirim berkasnya melalui pos. Waktu itu saya di temani oleh salah satu teman saya bernama Vina, dia juga mengajukan beasiswa di universitas yang sama.

Saya masih ingat waktu itu hari minggu jam 9 pagi, saya masih tertidur pulas di kamar (yang di cap tomboy dengan kebiasaan yang tidak biasa, tidur sampai siang bolong) ibu saya memanggil nama saya berkali-kali, saya pikir mama saya akan menyuruh saya menimba air di sumur lagi (seperti biasa kegiatan pagi-pagi saya adalah menimba air di sumur, tapi berhubung hari minggu, saya sudah menimba air malam sebelumnya), merasa sudah melakukan pekerjaan rumah, saya kembali melanjutkan tidur.

Tetapi tidak disangka-sangka ibu saya berteriak sambil meminta tolong, tidak seperti biasanya, dengan sedikit terkantuk-kantuk saya berjalan ke arah dapur, dan ternyata!! MAMA SAYA TERJATUH di kamar mandi!!! Saya pun meminta tolong pada tetangga untuk mengangkatnya ke kamar saya. Lalu saya bertanya “kok bisa mama terjatuh? Mama tadi ngapain?”, dengan susah payah dia menjawab “mama tadli habisy mandli, habisy pakai baju mau kelual tapi kaki mama gak bisa gelak”

Saya pun panik, penyakit apa yang menimpa mama saya? Kenapa bicaranya jadi tidak karuan begitu, ketika perawat datang (maklum waktu itu tidak ada dokter di tempat saya) mama saya di vonis STROKE ringan. Saya pun bingung, di rumah sebesar itu hanya berdua dengan mama, rasa-rasanya tidak mungkin sanggup untuk saya merawatnya, dengan penuh pertimbangan keesokannya kami pun pindah ke rumah saudara sulung mama saya, tapi sampai disana kami di anjurkan untuk membawa mama saya ke rumah sakit.

Perjalanan ke rumah sakit sedikit membosankan, mengarungi lautan selama 9 jam lamanya, dari pulau BINONGKO WAKATOBI menuju BAU-BAU, sampai di bau-bau kami langsung ke rumah sakit, di hari yang sama, kakak saya menelpon, saya pikir semua akan membaik ternyata tidak, dia justru menelpon untuk memberi kabar bahwa dia akan menikah dengan kekasihnya, saat itu juga saya merasa ada kilat yang menyambar ubun-ubun saya, dia dapatkan keberanian dari mana sampai-sampai menikah tanpa meminta izin pada kedua orang tua saya??? (saya dan kakak saya dua orang yang sangat berbeda, kakak saya yang penurut, pendiam dan keibuan dibanding saya yang ribut, nakal dan tomboy), Tuhan masalah apa lagi ini???  Belum selesai satu, datang masalah lainnya.

Saya memberi tahunya tentang keadaan mama kami, ternyata dia memutuskan untuk datang SETELAH MENIKAH?, dengan bimbang saya meng-iya-kan keputusannya termasuk untuk sementara waktu tidak memberi tahu hal ini pada kedua orang tua saya, tapi apa mau dikata malamnya ayah saya menelpon, murkanya di lampiaskan semua pada saya, dengan tetap terdiam saya mendengarkan semua amarah yang dilontarkan termasuk kata-kata hina yang tak patut disampaikan oleh seorang ayah pada anaknya, ketika itu saya sadar saya benar-benar belum mengenal watak ayah saya.

Selang beberapa minggu di rumah sakit , ibu saya tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan, dan mengingat saya sudah menjual seluruh perhiasan mama untuk biaya rumah sakit, dengan berat hati mama saya bawa pulang ke rumah keluarga yang ada di Bau-Bau. Saat-saat itu cukup menyenangkan dimana saya bertemu sahabat karib saya semasa SD, Ahmad Rizal namanya, sosoknya yang jangkung, atletis, baik dan lucu membuat saya selalu tertawa dengan obrolannya, Rizal sangat peduli dan mau membantu saya, termasuk mengantarkan saya kemanapun saya pergi ketika saya bersedih.

Berminggu-minggu tidak ada kabar dari ayah dan kakak saya, begitupun dengan berkas beasiswa yang pernah saya kirim, saya mulai pesimis dan menerima nasib, bercerita dengan lemah pada Rizal, mungkin ini balasan dari sifat saya yang jadi anak nakal, serba menang sendiri, tapi kembali lagi Rizal menghibur saya dengan candaannya, saya masih ingat ketika dia bercerita tentang keluarganya yang kurang lebih sedikit broken seperti saya, dan kisah Rizal menjadi penyemangat saya, dia bisa tangguh bahkan menghibur saya kenapa saya harus terpuruk?

Tepat di pagi hari saya lupa tanggalnya, ketika itu saya sedang mengajak mama saya berjemur di bawah matahari pagi dengan menatap ke arah jalan raya, saya mengajak mama saya bercerita tentang semua lelucon yang pernah di ceritakan rizal, tapi dia tidak tertawa, apalagi tersenyum, bahkan saya sengaja mengajaknya bermain becak, mama sebagai penumpang, tapi mama tidak memberi respon sama sekali, lalu ketika saya terdiam menahan tangis, dengan susah payah mama mulai berbicara “dek, beasiswamu gimana? Ada kabal?”, saya hanya menjawab “tidak ma, saya tidak mau kuliah, nunggu kak kiky aja sambil jagain mama”. Tidak ada jawaban untuk pernyataanku, dan ternyata air mata mengalir di pipi mama, dan sekali lagi saya menyakiti hatinya.

Bersambung.....